Menurut wikipedia bahasa Indonesia, disleksia adalah sebuah kondisi ketidakmampuan belajar pada seseorang yang disebabkan oleh kesulitan pada orang tersebut dalam melakukan aktivitas membaca dan menulis. Pada umumnya keterbatasan ini hanya ditujukan pada kesulitan seseorang dalam membaca dan menulis, akan tetapi tidak terbatas dalam perkembangan kemampuan standar yang lain seperti kecerdasan, kemampuan menganalisa dan juga daya sensorik pada indera perasa.
Setelah tahap ketiga terlewati dengan baik, kita mulai mengajarkan rangkaian kata yang terdiri dari sebuah suku kata, dengan sebuah huruf konsonan, baik di depan atau belakang. Misalnya, a-ku, du-a. Ini juga mudah bagi anak, karena tinggal mengajari teknik mengucapkannya saja. Kemudian kita ajarkan, kata yang diangkiri dengan konsonan, misalnya ti-da-k, ma-su-k. Agak berfikir sebentar, tetapi pada hakekatnya seperti kita ngatakan sebuah rahasia membaca kepada anak. "Dik.. kalau t-i d-a ada k di belakang, membacanya ti-da...k. Dan setrusnya, si anak akan semakin terpesona, tertantang, dengan keunikan membaca.
Emosi yang meledak-ledak ketika mengajari anak yang tidak bisa membaca memang kerap dialami sebagian besar orang tua. Inilah tantangan besar menjadi ibu rumah tangga. Bagaimana pun kondisi anaknya, seorang Ibu harus mendukung anaknya dengan penuh kesabaran. Belajarlah mengontrol emosi Anda. Marah-marah hanya akan membuat anak makin malas untuk belajar. Jadi, cari cara lain agar anak mau belajar membaca.
Hindari membacakan kalimat yang panjang dan sulit dimengeri anak. Bila anak Anda tidak paham dengan alur cerita, maka gunakan bahasa sehari-hari yang lebih mudah dimengerti. Orang tua tidak harus mencoba menguji kemampuan membaca anak atau memaksa anak untuk membaca materi yang sebenarnya dia tidak siap. Orang tua sebaiknya fokus untuk menikmati cerita dan berbicara dengan si anak mengenai informasi atau cerita dalam buku.
Aktivitas Della membuka lapak tikar di pesisir Bulusan bermula saat dia melihat jambore di Universitas PGRI Banyuwangi (Uniba) pertengahan Januari kemarin. Dalam acara jambore tersebut, Rumah Literasi Banyuwangi (RLB) ikut serta mengenalkan diri untuk mengajak membuat rumah baca dan mengkampanyekan baca kepada semua orang. Termasuk kepada Della, yang hadir saat itu.
Sekarang ini Aira nggak nyaman membaca buku terjemahan. Maksudnya, jika penulis buku itu memang orang Indonesia, maka buku bahasa Indonesia, ya, nggak apa-apa, tapi jika aslinya bahasa Inggris, dia lebih senang membaca versi aslinya dibanding terjemahan. Harry Potter paling tebal dalam bahasa Inggris bisa selesai dibaca dalam 3-4 hari. Kalau lihat tebalnya buku bacaan Aira rasanya sudah pusing duluan. Ensiklopedia anak-anak dan umum juga dia baca, begitu juga buku-buku National Geographic. Beli buku di Periplus, belum sampai rumah sudah habis dibaca setengahnya. Untungnya dia suka membaca ulang buku-bukunya. Untuk mensiasati, perpustakaan jadi alternatif yang tepat untuk memenuhi reading-appetite Aira. Sementara saya dan si ayah bahagia luar biasa melihat si Little Ace dengan buku-bukunya.
Namun, masih banyak orang tua yang beranggapan bahwa mengajarkan anak membaca, menulis dan berhitung tidak perlu dilakukan sejak anak masih kecil. Karena efeknya dapat membuat anak stres akibat tekanan yang tidak sesuai dengan usianya. Hal tersebut memunculkan sebuah pertanyaan, hal-hal apa saja yang penting untuk diingat orang tua saat mengajari anak membaca, menulis dan berhitung?

Untungnya saya memang orang yang selalu merasa gak perlu untuk ngikutin anak les baca. Aira pun akhirnya nggak belajar membaca sepanjang TK A itu. Hanya saja saya memang selalu membelikan buku cerita dan membacakan untuk Aira. Saya lebih sering membelikan Aira buku cerita dibanding mainan. Jalan-jalan ke toko buku selalu jadi salah satu rekreasi kami. Saya ‘pelit’ membelikan mainan (bukannya gak dibelikan sama sekali, lho), tapi nggak begitu soal buku. Waktu itu saya nggak mencari tahu lebih banyak soal mengajari anak membaca, saya hanya keukeuh soal gak ikut les baca di kala teman-teman di sekolahnya diikutkan les membaca oleh orangtuanya.

Si Kecil juga biasanya merengek ketika ingin mendapatkan perhatian dari Mam atau Pap. Oleh karena itu, sebaiknya orang tua peka dan memberikan perhatian cukup kepada si Kecil. Misalnya, temani si Kecil bermain, menonton televisi, atau membaca buku. Jika merasa diperhatikan, si Kecil tidak akan menuntut perhatian secara berlebihan. Mam bisa menemukan ide-ide permainan seru bersama si Kecil di sini.
Siapkan beberapa butir kacang hijau dan kacang kedelai. Juga dua buah gelas air mineral bekas, beri label pada masing-masing gelas plastik. Satu untuk kacang hijau, satu lagi untuk kacang kedelai. Ajak si kecil untuk memisahkan butiran kacang hijau dan kacang kedelai dan memasukkan ke tempat yang sudah disiapkan. Beri reward jika si kecil dapat dengan sabar dan teliti memisahkan kedunya. Bisa juga digunakan butiran yang lebih besar, misalkan kelereng. 
Bisa dengan jalan menggambar dan menuliskan apa yang ia senangi dalam hal menggambar. Memperlihatkan gambar dan membacakannya dengan lisan. Ketrampilan anak membaca akan berjalan seiring dengan ketrampilannya menulis dan mengingat sesuatu. Ketika Anda memutuskan untuk mengajarkan anak Anda membaca, Anda harus siap mengajarkan anak menulis dan menghafalkan sesuatu yang baru secara continue/berkelanjutan. Harus ada buku dan pensil untuk anak beserta tulisan bergambar yang digunakan untuk anak menghafal. Misalnya saja nama-nama buah, hewan atau bulan dan angka dengan gambar-gambar yang menarik! Pada umumnya anak akan termotivasi belajar jika ada hadiah untuknya sebelum atau sesudah berlatih membaca.

Fokus kita, hingga saat ini, telah membangun minat dalam cerita dan membaca. Sekarang saatnya untuk memulai proses pengajaran dan dua pendekatan yang berbeda telah digunakan selama bertahun-tahun, metode fonik dan metode bahasa . Metode fonik ini didasarkan pada suara huruf dan suku kata sedangkan metode bahasa didasarkan pada menghafal bentuk seluruh kata.
Perkembangan teknologi bukan berarti sesuatu yang negatif bagi anak. Kamu bisa memanfaatkan teknologi untuk mengajari anak membaca. Ada banyak aplikasi yang bisa kamu gunakan untuk belajar bersama anak. Kamu bisa memilih aplikasi yang mengenalkan anak pada huruf. Aplikasi yang menyanyikan abjad. Bahkan kamu juga bisa memilih aplikasi matematika buat anak. Jadi kamu cukup menyesuaikan saja mana kebutuhan kamu.

Terkadang sebagai orang tua kita merasa bingung bagaimana cara belajar membaca untuk anak yang mudah dan menyenangkan.  Menurut studi terbaru, 38% dari siswa kelas 4 membaca di bawah standar  tingkat kelas dasar. Hanya persentase yang sangat kecil dari siswa yang mampu membaca secara signifikan di atas tingkat kelas dasar. Studi juga menunjukkan bahwa kemampuan membaca memiliki pengaruh langsung pada prestasi akademik secara keseluruhan. Studi-studi lain telah menemukan bahwa pengetahuan tingkat tinggi tentang huruf  di TK menghasilkan keterampilan keaksaraan yang lebih baik pada anak-anak yang lebih tua. Berdasarkan bukti-bukti di atas, banyak orang tua memulai program membaca awal dengan anak-anak mereka. Anda juga bisa

Butuh kesabaran tingkat tinggi untuk mengajarkan anak membaca, tapi jangan pernah menyerah. Jangan pula merasa sedih atau marah kalau perkembangannya tampak lebih lambat daripada anak lain usia sepantaran. Proses tumbuh kembang masing-masing anak tentu berbeda. Jangan pernah membandingkan kemampuan membaca anak Anda dengan yang lain. Bagaimanapun juga, anak Anda punya bakat dan kemampuan yang terbaik untuk dirinya sendiri.
×